Lenteraindonesia.net | Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan akan terus memperketat standar operasional untuk memastikan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap optimal. Hingga saat ini, terdapat 760 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih ditangguhkan operasionalnya karena belum memenuhi persyaratan teknis dan operasional.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa dari total 1.030 SPPG, sebanyak 760 SPPG masih dalam proses perbaikan dan evaluasi untuk memenuhi standar yang ditetapkan.
“Bapak Presiden menekankan bahwa seluruh SPPG yang belum memenuhi standar harus dihentikan sementara operasionalnya hingga dilakukan perbaikan menyeluruh. Hal ini penting untuk memastikan kualitas layanan MBG tetap terjaga dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” ujar Dadan Hindayana dalam keterangan persnya pada Rabu, 1 April 2026.
BGN memastikan bahwa penyesuaian pola kerja aparatur pemerintah yang sedang berlangsung tidak akan mengganggu kelangsungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program strategis nasional ini akan tetap berjalan, dan penyalurannya akan mengikuti jumlah hari sekolah. Misalnya, jika sekolah beroperasi selama 5 hari dalam seminggu, maka MBG akan disalurkan sesuai dengan jumlah hari tersebut. Kebijakan ini menunjukkan komitmen BGN untuk menjaga konsistensi layanan dan pemenuhan gizi bagi anak-anak.

“Penyesuaian ini penting untuk memastikan MBG tetap berjalan dengan baik, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, yang tetap akan menerima manfaat tanpa gangguan,” tambah Dadan Hindayana.
BGN juga menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah efisiensi yang dilakukan pemerintah, termasuk pengaturan penggunaan fasilitas dinas. Namun, BGN menegaskan bahwa meskipun ada penyesuaian tersebut, kualitas dan jangkauan layanan publik, khususnya program MBG, tetap menjadi prioritas.
“Kami optimistis bahwa program MBG tetap dapat berjalan efektif, mendukung transformasi tata kelola pemerintahan yang lebih efisien, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama bagi kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita),” ujar Dadan.
Dengan pengelolaan yang adaptif dan terukur, BGN berharap program ini dapat terus memenuhi tujuannya untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesejahteraan masyarakat, tanpa mengurangi kualitas layanan yang diberikan. (Red)
Penulis: Igon
Editor: Adr











