Wednesday, September 9, 2026
spot_img
Home Bogor Raya GPSM Bogor Tengah Ikuti Pelatihan Ustad dan Ustadzah Peduli HIV di Cisarua

GPSM Bogor Tengah Ikuti Pelatihan Ustad dan Ustadzah Peduli HIV di Cisarua

Lenteraindonesia.net | KABUPATEN BOGOR — Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus menekan stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk melibatkan tokoh agama.

Sejumlah ustad dan ustadzah di Kabupaten Bogor mengikuti pelatihan “Ustad dan Ustadzah Peduli HIV” yang digelar selama dua hari, 8–9 September 2026, di Hotel New Pesona Anggraini, Cisarua, Kabupaten Bogor.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 120 peserta dari berbagai majelis taklim, pondok pesantren, serta penggiat sosial. Salah satu peserta berasal dari GPSM Korwil Bogor Selatan.

Pelatihan ini bertujuan membekali para pemuka agama dengan pengetahuan yang tepat mengenai HIV/AIDS, mulai dari cara penularan dan pencegahan hingga pengobatan serta pendekatan dakwah yang humanis dan tidak diskriminatif terhadap ODHIV.

Salah seorang narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengatakan, tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk pemahaman masyarakat.

“Tokoh agama punya pengaruh besar di masyarakat. Dengan bekal ilmu yang tepat, ustad dan ustadzah bisa jadi garda terdepan untuk edukasi dan menghilangkan stigma terhadap penderita HIV,” ujar narasumber saat membuka kegiatan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan sejumlah materi penting terkait HIV/AIDS.

Materi yang diberikan antara lain fakta dasar HIV/AIDS, meliputi cara penularan, pencegahan dan pengobatan; peran tokoh agama dalam menyampaikan pesan kesehatan melalui khutbah maupun pengajian; etika pendampingan dengan tetap menghargai martabat ODHIV dan keluarganya; serta informasi mengenai layanan rujukan ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat.

Tidak hanya mendapatkan materi, para peserta juga mengikuti simulasi mengenai cara menyampaikan informasi HIV dalam forum pengajian.

Pendekatan yang digunakan diarahkan agar pesan mengenai HIV dapat disampaikan secara edukatif dan penuh kasih sayang, tanpa menimbulkan kepanikan maupun stigma di tengah masyarakat.

Ketua Gardu Penggiat Sosial (GPSM) Kabupaten Bogor, Dian Firmansyah, mengaku pelatihan tersebut memberikan manfaat bagi para penggiat sosial maupun tokoh agama yang mengikutinya.

“Selama ini kami takut salah bicara. Sekarang jadi paham bagaimana menyampaikan pesan pencegahan HIV sesuai ajaran agama tapi tetap memuliakan manusia,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, seluruh peserta diharapkan memiliki komitmen bersama untuk menjadi “Ustad/Ustadzah Peduli HIV” di lingkungan masing-masing.

Para peserta diharapkan dapat menyisipkan pesan kesehatan, pencegahan HIV, serta kampanye anti-stigma dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, seperti ceramah, kajian, pengajian, maupun kegiatan kemasyarakatan.

Panitia berharap keterlibatan tokoh agama dapat membuat edukasi mengenai HIV menjangkau masyarakat secara lebih luas, termasuk hingga tingkat RT, majelis taklim, dan pondok pesantren.

Dengan pendekatan berbasis edukasi dan nilai kemanusiaan, para tokoh agama diharapkan mampu membantu masyarakat memperoleh informasi HIV yang benar sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif bagi ODHIV.(***)

 

 

Penulis: Riki

Editor: Adr