Perjuangan Sopir Bus AKAP Antar Pemudik Rayakan Idulfitri di Jalan Tanpa Keluarga

Lenteraindonesia.net I Deru mesin kendaraan yang tak pernah berhenti di tengah kemacetan arus mudik menjadi bukti perjuangan para sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) menjalankan pekerjaannya sebaik mungkin.

Di balik perjalanan para pemudik menuju kampung halaman, sopir bus harus mempertaruhkan tenaga dan kesabaran untuk menghadapi kemacetan yang tak terhindarkan. Rasa kantuk, tangan dan kaki yang pegal akibat lalu lintas padat, menjadi tantangan yang harus dihadapi sopir selama mengantar penumpang.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, sopir bus tak pernah berhenti berusaha agar setiap penumpang tiba di tujuan dengan selamat. Kutukan Macet Jakarta yang Tak Kunjung Usai Artikel Kompas.id Salah satu sopir bus AKAP, Yayat (52), mengaku terjebak macet saat Lebaran sudah menjadi rutinitasnya selama puluhan tahun.

“Mobil saya ini Banjar (Jawa Barat)-Tanjung Priok, perjalanan kurang lebih delapan jam kalau enggak macet,” ungkap Yayat ketika diwawancarai Kompas.com di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 19 Maret 2026.

Namun, saat musim Lebaran, perjalanan yang biasanya delapan jam bisa memakan waktu belasan jam karena kemacetan, termasuk di jalur tol. Selama terjebak macet, Yayat hanya bisa bersabar sambil menahan rasa kantuk. Jika sudah tak kuat, ia memilih istirahat di rest area, biasanya sambil merokok agar tetap terjaga dan bisa melanjutkan perjalanan.

Selain kemacetan, pengalaman paling berat bagi sopir bus adalah ketika kendaraannya mogok. “Dukanya banyak banget, di jalan kalau lagi mengalami trouble, sedih banget. Paling di jalan masalah trouble mogok,” ungkap Yayat.

Ketika busnya mogok, hal ini sering membuatnya bingung bagaimana menjelaskan kepada penumpang. Sebab, banyak penumpang ingin cepat sampai agar bisa merayakan Lebaran bersama keluarga. Di sisi lain, jika kerusakan parah, ia khawatir tak bisa menanganinya sendiri.

“Kalau masih ada mobil di belakang sih enggak masalah, kalau enggak ada repot,” tutur Yayat. Meski begitu, ia tetap menikmati pekerjaannya sebagai sopir bus, karena merasa tidak terikat seperti pekerjaan kantoran. Baca juga: Penghasilan Seret, Driver Ojol Ikut Program Mudik Gratis untuk Pulang Kampung. (Igon)

Editor : Adr