Ratusan PJU Mati di Bogor Barat Jadi Sorotan, KNPI Jasinga Sebut “Patung Besi” Simbol Absennya Negara

Lenteraindonesia.net | BOGOR BARAT – Kondisi ratusan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati di wilayah Bogor Barat menuai sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Tiang-tiang PJU yang berdiri di sepanjang ruas jalan nasional dan jalan Kabupaten Bogor kini hanya menjadi “patung besi tanpa cahaya” setelah aliran listriknya disegel PLN akibat tunggakan pembayaran.

Akibat kondisi tersebut, jalur vital yang menghubungkan Kecamatan Leuwiliang, Leuwisadeng, Nanggung, Cigudeg, Sukajaya, Jasinga hingga Tenjo kini dipenuhi titik gelap yang dinilai membahayakan keselamatan masyarakat.

Warga menyebut ribuan pengguna jalan setiap hari harus melintasi ruas jalan minim penerangan, terutama pada malam hari. Kondisi itu tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas.

Sejumlah ruas jalan yang sebelumnya diharapkan menjadi akses aman bagi masyarakat kini justru berubah menjadi lorong gelap. Padahal jalur tersebut menjadi akses utama menuju rumah sakit, sekolah, pasar tradisional hingga pusat pemerintahan.

Ketua DPK KNPI Jasinga, Ama Dery, menilai kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan membutuhkan tindakan cepat dari pemerintah.

“Jangan sampai ada korban dulu baru bertindak. Jalur Jasinga–Cigelung sudah lama gelap gulita dan sangat membahayakan masyarakat,” ujar Ama Dery, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, keberadaan lampu jalan seharusnya menjadi fasilitas dasar yang wajib dipenuhi pemerintah demi menjamin keselamatan pengguna jalan.

Sorotan juga datang dari aktivis Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat, Bram Suryadi dan Ilyas Sunarya. Mereka menilai pemerintah terkesan lamban menangani persoalan penerangan jalan di wilayah Bogor Barat.

“Kami mempertanyakan ke mana anggaran APBN dan APBD untuk penerangan jalan. Masyarakat butuh kepastian keselamatan, bukan sekadar tiang besi tanpa fungsi,” tegas Bram.

Menurut mereka, kondisi jalan gelap berpotensi memicu meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang melintas pada malam hari.

Selain itu, minimnya penerangan juga dinilai membuka peluang terjadinya tindak kriminalitas di sejumlah titik rawan.

Beberapa lokasi yang disebut warga paling minim penerangan di antaranya:

  • Jalur Lebak Panjang menuju perbatasan Kabupaten Bogor dan Lebak, Banten
  • Simpang Curug dan Desa Wirajaya di Kecamatan Jasinga
  • Jalan Ace Tabrani Kecamatan Nanggung
  • Jalur Cigudeg menuju Sukajaya

Warga mengeluhkan kondisi penerangan yang tidak merata. Di beberapa titik lampu terlihat redup, sementara di titik lainnya gelap total tanpa pencahayaan sama sekali.

Sementara itu, berdasarkan keterangan staf UPT Dishub Wilayah V Jasinga, persoalan matinya PJU terjadi karena tagihan listrik belum dibayarkan oleh pemerintah pusat.

Selain itu, proses pemindahan aset dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) ke BPTD Wilayah I disebut masih berlangsung sehingga anggaran pemeliharaan dan pembayaran listrik belum tersedia.

“Sejak awal pembangunan sebagian PJU memang belum menyala maksimal. Saat ini masih dalam proses pembahasan terkait aset dan penganggaran,” ujar salah satu staf UPT Dishub Wilayah V Jasinga.

Masyarakat berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Pemerintah Kabupaten Bogor segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut sebelum memakan korban jiwa.

Fenomena “patung besi tanpa cahaya” di Bogor Barat kini dianggap menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap lambannya penanganan infrastruktur pelayanan publik.

Warga berharap jalan nasional dan jalan kabupaten yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat dapat kembali terang dan aman digunakan seluruh pengguna jalan.(***)

 

Penulis: Redaksi

Editor: Adr