Lenteraindonesia.net | Bogor — Banjir kembali melanda Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, pada Senin (29/12/2025). Genangan air merendam wilayah RT 01/RW 05 dan RT 05/RW 04, termasuk kawasan SDN Kemang Kiara yang menjadi salah satu titik terdampak paling parah.
Dalam rekaman video yang diterima Lenteraindonesia.net, seorang penjaga sekolah yang enggan disebutkan namanya menyebut bahwa banjir terjadi hampir setiap kali hujan turun.

“Lihat tuh banjir. Ini sekolah sampai terendam begini. Setiap hujan pasti begini, soalnya sekolah posisinya di belakang perumahan,” ujarnya saat merekam kondisi genangan.
Kepala Desa Kemang, H. Entang Suana, S.E., menjelaskan bahwa banjir diduga dipicu oleh kapasitas saluran air di sejumlah perumahan yang dinilai terlalu kecil sehingga mudah tersumbat. Kondisi tersebut disebut menjadi faktor utama yang menyebabkan limpasan air mengalir ke permukiman dan sekolah.

“Hari ini kembali terjadi banjir yang melanda wilayah RT 01/RW 05 dan RT 05/RW 04. SDN Kemang Kiara paling parah karena posisinya berada di belakang perumahan dengan saluran kecil, sehingga aliran air meluap ke permukiman,” kata Entang.
Ia memerinci tiga titik yang disebut diduga menjadi pemicu utama banjir:
• Perumahan Avoria — saluran air berukuran kecil dan diduga tersumbat.
• Perumahan Grasi Putra Gemilang — debit air tinggi turun ke wilayah warga.
• Perumahan Greenland — dugaan penyumbatan sampah pada saluran memicu luapan ke sekolah dan permukiman.

“Perumahan avoria sebagai yang dilewati air dari 3 perumahan , harusnya salurannya lebih besar, intinya, kalau salurannya besar dan bagus, tidak ada penyumbatan. Namun jika saluran kecil dan tersumbat, air akan meluap ke permukiman,” tambahnya.
Entang menuturkan bahwa persoalan banjir ini sebenarnya telah dibahas lintas dinas. Namun, hingga penghujung tahun 2025, belum ada realisasi perbaikan pada saluran yang dinilai menjadi pemicu utama.

“Ketiga perumahan ini memang saling berhubungan dengan banjir. Sudah ditindaklanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas PUPR, bahkan rapat dan kajian pascabanjir 9 Agustus lalu sudah dilakukan, tetapi hampir lima bulan belum ada realisasi,” tegasnya.
Warga berharap penanganan segera dilakukan agar banjir tidak terus berulang, terutama karena SDN Kemang Kiara menjadi titik rawan yang berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar. (Red)
Editor: Adr











