Lenteraindonesia.net | Bogor – Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali terjebak dalam rutinitas duniawi hingga melupakan esensi utama penciptaannya. Kesibukan mengejar materi, jabatan, dan berbagai pencapaian dunia terkadang membuat manusia jauh dari tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni mengenal dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Jum’at, (05/06/26).
Dalam paparannya, Dr. K.H. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., M.B.A. menegaskan bahwa mengenal Allah SWT (Ma’rifatullah) merupakan misi utama kehidupan manusia yang harus ditempuh melalui perjalanan spiritual yang mendalam dan berkesinambungan.
HAKIKAT PENCIPTAAN MANUSIA
Tujuan dasar kehadiran manusia di muka bumi adalah untuk beribadah dan mengenal Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Para ulama tafsir, termasuk Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa makna “beribadah” dalam ayat tersebut juga mengandung makna “mengenal-Ku” (li ya’rifun). Dengan demikian, ibadah yang hakiki lahir dari pengenalan yang benar terhadap Allah SWT.
Seseorang yang mengenal Tuhannya dengan baik akan menjalankan ibadah bukan karena keterpaksaan, melainkan sebagai bentuk cinta, ketaatan, dan kebutuhan spiritual yang mendalam.
MEMAHAMI KETERBATASAN DIRI
Perjalanan menuju pengenalan kepada Allah dimulai dengan kesadaran akan keterbatasan diri sebagai makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir: 15)
Menurut Dr. Another Hapin Nurgus, kesadaran bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan tanpa pertolongan Allah merupakan pintu awal menuju ma’rifatullah.
Konsep ini dikenal dalam dunia tasawuf sebagai faqr, yakni perasaan selalu membutuhkan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kesadaran tersebut akan melahirkan kerendahan hati dan mengikis kesombongan yang sering menjadi penghalang kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.
DUA CERMIN UTAMA MENGENAL ALLAH
Untuk mengenal Allah SWT secara lebih mendalam, manusia dapat menempuh dua jalan utama, yaitu melalui tadabbur alam dan memahami wahyu.
1. Tadabbur Alam
Allah SWT memerintahkan manusia untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang tersebar di seluruh alam semesta.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Keindahan alam, keteraturan semesta, pergantian musim, hingga kehidupan makhluk hidup merupakan bukti nyata kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
2. Memahami Wahyu
Akal manusia memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, Allah menurunkan wahyu sebagai petunjuk agar manusia tidak tersesat dalam memahami hakikat kehidupan.
Salah satu cara mengenal Allah adalah dengan memahami Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghafal, memahami, mengimani dan mengamalkannya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan memahami sifat-sifat Allah, seorang mukmin akan semakin mengenal kebesaran, kasih sayang, keadilan, dan kekuasaan-Nya.
BUAH DARI PERJALANAN SPIRITUAL
Puncak dari perjalanan mengenal Allah adalah hadirnya ketenangan hati (tuma’ninah).
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan tersebut tidak bergantung pada kondisi duniawi. Hati yang mengenal Allah akan tetap tenang dalam keadaan lapang maupun sempit, karena meyakini bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan.
KESIMPULAN
Mengenal Allah SWT bukanlah perjalanan yang selesai dalam sehari atau semalam, melainkan proses spiritual sepanjang hayat. Setiap langkah kehidupan sejatinya merupakan kesempatan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Sebagaimana disampaikan Dr. K.H. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., M.B.A., marilah menjadikan setiap aktivitas, ibadah, dan perjalanan hidup sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dengan menjadikan Ma’rifatullah sebagai kompas kehidupan, manusia akan menemukan makna, ketenangan, dan kebahagiaan sejati yang tidak akan terguncang oleh perubahan zaman.(***)
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Adr











