Festival Ngartist di Alun-Alun Kota Bogor Tuai Sorotan: PKL Pertanyakan Ketegasan Satpol PP

Lenteraindonesia.net | Kota Bogor — Gelaran Festival Ngartist (Ngamen Bareng Artis) di Alun-Alun Kota Bogor, Senin (21/07/2025), memicu kontroversi di kalangan pedagang kaki lima (PKL). Para pedagang mempertanyakan ketegasan dan keadilan penegakan aturan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor.

Pasalnya, acara musik yang menghadirkan sejumlah artis tersebut digelar di area penghijauan alun-alun—lokasi yang selama ini dilarang untuk dilewati warga dan PKL. Namun, saat konser berlangsung, puluhan penonton tampak memasuki zona terlarang tersebut, menyebabkan kerusakan rumput dan fasilitas hijau.

Salah satu tokoh PKL yang akrab disapa “Marsinah” (nama samaran) menuturkan bahwa para pengamen yang menjadi bagian dari acara pernah meminta izin untuk tampil kepada dirinya, yang kemudian disetujui. Namun, kehadiran mereka justru memicu razia terhadap para pedagang.

“Dulu kami masih bisa jualan di dalam. Yang tanggung jawab acara datang ke saya minta izin untuk Ngamen, saya izinkan. Tapi setelah itu, kami malah dirazia. Untungnya waktu itu ada Pak Wakil Wali Kota, Pak Dedi A. Rachim, yang membela kami. Katanya kami ini rakyat kecil yang hanya ingin cari nafkah. Kami akhirnya boleh jualan asal di luar area dan harus menjaga kebersihan, inisiatif kami para pedagang selesai berjualan sampah dipungutin sampai puluhan trashbag. Tapi tetap saja sering dirazia,” ujarnya.

Ia pun mempertanyakan standar ganda dalam penegakan aturan di Alun-Alun Kota Bogor.

“Pernah ada pedagang air mineral yang barangnya disita, harus tebus Rp50 ribu per barang. Tapi sekarang, di area yang dilarang justru dipakai untuk konser. Kenapa bisa? Ada apa ini?”

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Siputri (nama samaran), pedagang lainnya, yang berharap adanya perlakuan adil bagi seluruh pelaku ekonomi kecil.

“Kami juga cuma ingin tenang jualan, sama seperti mereka bisa tenang nyanyi di dalam alun-alun tanpa gangguan. Bedanya, mereka berseragam dan digaji negara, kami hanya pedagang kecil. Kami mohon keadilan, Pak. Kalau mau razia, ya semua, jangan cuma kami,” katanya.

Perlakuan represif juga dialami oleh Ateng, seorang pedagang air mineral yang videonya sempat viral karena dagangannya ditendang oleh petugas.

“Saya sebenarnya udah mau keluar area, cuma lagi beresin dagangan. Eh malah ditendang. Saya coba jelasin tapi gak digubris. Akhirnya, barang saya yang disita harus saya tebus Rp50 ribu,” ungkapnya.

Sunarsih (Nama Samaran) pedagang teh dingin, turut menyuarakan harapan kepada pemerintah untuk diberikan ruang yang adil dalam mencari nafkah.

“Kami sadar mungkin kami melanggar, tapi kami hanya ingin bisa berjualan dengan tenang. Tolong berikan kami sedikit kebijaksanaan, Pak. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi,” tuturnya lirih. (red)

Editor: Adr