Golok Bukan Sekadar Senjata, Dedie Rachim Dorong “Golok Road to UNESCO” Jadi Warisan Dunia

Lenteraindonesia.net | KOTA BOGOR — Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menegaskan bahwa golok bukan sekadar perkakas atau senjata tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang sarat nilai sejarah dan filosofi.

Hal tersebut disampaikan Dedie sepulang menghadiri kegiatan Lebaran Golok yang digelar di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).

Kegiatan bertema “Golok Road to UNESCO” itu diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari pertunjukan seni budaya, sarasehan, seni bela diri, hingga peluncuran buku.

Dedie mengapresiasi peran Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) yang terus mendorong golok agar diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

“Golok bukan sekadar alat, tetapi bagian dari jati diri masyarakat. Apa yang kita rawat hari ini memiliki akar sejarah yang sangat kuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, golok telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak ratusan tahun lalu.

Menurut Dedie, golok juga mengandung nilai filosofis yang tinggi. Ketajamannya melambangkan ketajaman berpikir, sementara bentuk serta pamornya mencerminkan keluhuran budi pekerti masyarakat.

“Keindahan gagang dan pamor golok menunjukkan nilai estetika dan karakter masyarakat Pasundan, dari Jawa Barat hingga Banten dan DKI Jakarta,” jelasnya.

Ia menilai kegiatan Lebaran Golok menjadi bagian penting dalam memperkuat literasi budaya, khususnya bagi generasi muda agar tidak hanya mengenal, tetapi juga memahami makna warisan leluhur.

Pemerintah Kota Bogor, lanjut Dedie, mendukung penuh inisiatif “Golok Road to UNESCO” sebagai langkah strategis dalam memperkenalkan budaya lokal ke tingkat internasional.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas daerah—mulai dari Bogor, Jakarta, hingga Banten—serta sinergi dengan kementerian terkait guna memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah global.

Dedie berharap kegiatan ini mampu mempererat silaturahmi antarperguruan silat, komunitas budaya, serta masyarakat luas, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya bangsa. (***)

 

Penulis: Igon

Editor: Adr