Lenteraindonesia.net | Tangerang — Mohamad Jembar resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPD Himpunan Masyarakat Nusantara Indonesia (HMNI) Tangerang. Keputusan tersebut, menurutnya, bukan dipicu persoalan internal organisasi, melainkan kebutuhan untuk fokus pada urusan lain di luar HMNI.
Jembar menegaskan seluruh jajaran pengurus HMNI memiliki solidaritas yang tinggi serta kebersamaan yang kuat. Karena itu, keputusan mundur diambil semata-mata untuk mengurangi aktivitas yang terlalu menyita waktu.
“Saya rehat dari aktivitas organisasi yang saya nahkodai. Tidak ada masalah apa pun. Hanya ingin tidak larut menghabiskan waktu, saya perlu konsentrasi pada hal lain,” ujarnya.
Keputusan Jembar ternyata diikuti oleh sejumlah pengurus lainnya. Bendahara DPD HMNI, Ayu Novita Sari, menyampaikan bahwa ia dan beberapa pengurus lain memilih mundur karena merasa membangun organisasi ini bersama sejak awal.
“Jika ketua mundur, maka kami juga mengikuti. Kesetiaan pada ketua itu yang kami junjung tinggi,” kata Ayu.
Nama-nama yang ikut mundur di antaranya:
Endang Mulyadi, Topik, Falati, Agung, Hidayatullah, Farizky, Albeert, Saprudin, Noermala, dan sejumlah pengurus lainnya.
Terkait kerja sama antara DPD HMNI dengan CSR PIK 2, Jembar menyebut statusnya kini otomatis kembali ke titik awal.
“Andaikan nanti ada pengurus baru, mungkin bisa dilanjutkan. Tapi bagi kami, kerja sama itu hanyalah jembatan kebaikan. Kalau tidak direalisasikan, ya tidak perlu dipikirkan. Kita organisasi mandiri, bukan kaum dhuafa jadi-jadian,” tegasnya.
Ia juga membantah isu bahwa pengunduran dirinya dipicu janji kerja sama CSR yang tidak dipenuhi.
Selain dari HMNI, Mohamad Jembar juga mengundurkan diri dari posisi Dewan Pembina Apdesi Kabupaten Tangerang. Pengunduran diri dilakukan secara bersamaan dan telah dikirimkan melalui surat resmi bermeterai kepada pihak terkait.
“Semua sudah saya sampaikan secara resmi ke DPP HMNI, DPD HMNI Banten, hingga Direktur CSR PIK 2. Begitu juga untuk Apdesi Tangerang,” jelasnya.
Jembar mengatakan keputusan ini sudah lama dipikirkan. Ia mengaku ingin lebih banyak mencurahkan waktu bagi keluarga.
“Saya sudah lelah menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas yang tak berujung. Ada hal-hal yang harus saya putuskan demi kebaikan. Investasi diri tidak harus lewat organisasi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan tetap akan berperan sebagai warga yang kritis dan konstruktif terhadap kebijakan pemerintah daerah.
“Semua ada waktunya. Saya kapan saja bisa bergerak untuk kebaikan, baik kritik membangun atau kritis untuk solusi,” tutupnya. (Red)
Editor: Adr











