Mimpi yang Membawa Langkah ke Malasari

Lenteraindonesia.net I kemang – Hari Jadi Bogor ke-544 menjadi momen yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Upacara peringatan yang biasanya dilaksanakan di pusat pemerintahan, kali ini digelar di Pendopo Bupati Bogor pertama yang berada di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Sebuah tempat yang sarat nilai sejarah, berada di bawah kaki Gunung Halimun Salak yang megah dan menyimpan banyak cerita tentang perjalanan Bogor dari masa ke masa.

Di bawah kepemimpinan Bupati Bogor, Rudy Susmanto, kawasan Bogor bagian barat terus mendapatkan perhatian. Potensi alam, sejarah, dan pendidikan mulai ditata menjadi kawasan wisata dan edukasi yang tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membuka peluang masa depan. Malasari menjadi salah satu simbol bahwa pembangunan harus berjalan seimbang, tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menyentuh wilayah yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

Bagi saya, Mohamad Raka Fahrul Roji, pegawai Kecamatan Kemang, pelaksanaan upacara Hari Jadi Bogor ke-544 di Malasari memiliki makna yang sangat khusus. Jauh sebelum keputusan itu diumumkan, saya pernah mengalami sebuah mimpi yang hingga kini masih saya ingat dengan jelas.

Dalam mimpi tersebut, saya berada di sebuah tempat yang tenang dan penuh nuansa sejarah. Di tengah suasana itu, terdengar sebuah kalimat yang begitu kuat, seolah disampaikan langsung kepada saya:

“Kalau kau ingin menjadi seseorang, datanglah ke tempat Bupati Bogor pertama berkantor.”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang. Bahkan ketika saya terbangun, kata-kata tersebut masih terasa jelas di dalam pikiran. Saya tidak memahami sepenuhnya maknanya saat itu, tetapi saya merasakan ada pesan yang dalam di baliknya.

Waktu berlalu. Hingga suatu hari saya mendengar kabar bahwa upacara Hari Jadi Bogor ke-544 akan dilaksanakan di Desa Malasari, tepat di lokasi yang dahulu menjadi tempat berkantornya Bupati Bogor pertama. Seketika saya teringat kembali pada mimpi tersebut. Bulu kuduk saya merinding. Ada perasaan haru sekaligus takjub karena apa yang pernah hadir dalam mimpi kini menjadi kenyataan yang dapat saya saksikan secara langsung.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Namun bagi saya, ini adalah pengingat bahwa sejarah memiliki cara tersendiri untuk memanggil generasi penerusnya. Malasari bukan hanya sebuah desa di kaki Gunung Halimun Salak. Malasari adalah simbol perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat Bogor.

Karena itu, Insya Allah saya akan hadir dan mengikuti upacara Hari Jadi Bogor ke-544 di Malasari. Saya ingin menyaksikan langsung bagaimana sejarah dan masa depan bertemu dalam satu peristiwa. Saya ingin berdiri di tempat yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor pada masanya, sekaligus merenungkan pesan yang saya dengar dalam mimpi itu.

Mungkin menjadi “seseorang” bukan hanya tentang jabatan atau kedudukan. Mungkin yang dimaksud adalah menjadi pribadi yang memahami sejarah, menghargai perjuangan para pendahulu, dan memiliki tekad untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dan pada Hari Jadi Bogor ke-544, langkah saya menuju Malasari bukan sekadar menghadiri sebuah upacara. Itu adalah perjalanan untuk menyambung mimpi, mengenang sejarah, dan menumbuhkan harapan bagi Bogor yang semakin maju, seimbang, dan istimewa.

Penulis : Mohamad Raka Fahrul Roji

Pengelola Medsos Kecamatan Kemang

Editor : Adr