Lenteraindonesia.net | TANGERANG — Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SD Negeri Tobat 1, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, menuai sorotan Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia Provinsi Banten.
Proyek yang bersumber dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang tersebut memiliki pagu anggaran sebesar Rp1.075.867.000 dan dikerjakan oleh CV VIARKY.
Sorotan muncul setelah adanya dugaan sejumlah aspek pelaksanaan pekerjaan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari sistem pengamanan proyek hingga penggunaan material bangunan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (25/9/2026), area pembangunan RKB berada di dalam lingkungan sekolah.
Namun, disebut belum terlihat pemagaran atau sistem pengamanan proyek yang memadai. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian mengingat lokasi proyek berada di lingkungan yang setiap hari digunakan siswa dan tenaga pendidik.
Aspek keselamatan kerja dan keamanan lingkungan sekolah menjadi penting agar aktivitas pembangunan tidak menimbulkan risiko bagi warga sekolah.
Material besi yang digunakan di lokasi diduga tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau spesifikasi teknis pekerjaan. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis dengan membandingkan dokumen kontrak, RAB, spesifikasi dan kondisi fisik pekerjaan di lapangan.
Kesesuaian material dengan spesifikasi merupakan bagian penting dalam memastikan kualitas konstruksi, terlebih proyek tersebut menggunakan anggaran pemerintah dengan nilai lebih dari Rp1 miliar.
Saat dikonfirmasi di lokasi, salah seorang pekerja menyebut pelaksana proyek disebut jarang berada di lokasi pekerjaan.
Informasi tersebut turut menjadi perhatian FWJ Indonesia Provinsi Banten yang meminta pihak terkait memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan proyek.
Humas FWJ Indonesia Provinsi Banten, Mansyur, mengatakan proyek pembangunan fasilitas pendidikan dengan nilai anggaran besar seharusnya dilaksanakan dengan memperhatikan kualitas pekerjaan dan keselamatan lingkungan sekolah.
“Kalau benar penggunaan besinya tidak sesuai RAB dan pengamanan proyek juga tidak ada, ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai anggarannya besar, tetapi pengawasan di lapangan justru minim,” tegas Mansyur.
Mansyur meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang melakukan pemeriksaan langsung terhadap pekerjaan tersebut.
Menurutnya, pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan laporan administrasi, tetapi juga perlu melihat kondisi fisik pembangunan di lapangan.
“Kami meminta Dinas Pendidikan jangan tutup mata. Cek RAB, cek spesifikasi besi, cek volume dan kualitas pekerjaannya. Kalau memang ditemukan ketidaksesuaian, harus ada tindakan sesuai aturan,” ujarnya.
Ia juga meminta Inspektorat Kabupaten Tangerang maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memperhatikan kondisi fisik pekerjaan apabila dalam pemeriksaan ditemukan indikasi ketidaksesuaian.
Mansyur menegaskan anggaran pembangunan tersebut merupakan anggaran pemerintah sehingga penggunaannya perlu dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan.
“Uang yang digunakan adalah anggaran pemerintah. Masyarakat berhak tahu apakah pekerjaan senilai Rp1,075 miliar ini benar-benar dikerjakan sesuai spek atau tidak. Kalau ada dugaan penyimpangan, silakan diperiksa secara menyeluruh,” pungkasnya.
Sorotan tersebut menjadi catatan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang dan CV VIARKY untuk memberikan penjelasan terkait penggunaan material, sistem pengamanan proyek, keberadaan pelaksana di lapangan, serta kesesuaian pekerjaan dengan RAB dan spesifikasi teknis.
Hingga berita ini disusun, dugaan ketidaksesuaian material dan pelaksanaan pekerjaan tersebut masih memerlukan verifikasi teknis serta klarifikasi dari pihak pelaksana dan instansi terkait.
Pembangunan ruang kelas baru diharapkan tidak hanya memenuhi target pembangunan fisik, tetapi juga menjamin kualitas bangunan dan keselamatan siswa serta seluruh warga sekolah.(***)
Penulis: D.S
Editor: Adr











