Kisah Pilu Nuryani: Hidupi 8 Anak dengan Nasi Garam di Kontrakan Sempit

Lenteraindonesia.net I Bandung – Di balik riuhnya Kota Bandung, terselip kisah menyayat hati dari seorang ibu bernama Nurhayati.

Warga asal Tasikmalaya ini viral di media sosial setelah perjuangannya menghidupi delapan anak di sebuah kontrakan sempit kawasan Ujungberung terungkap ke publik.

Fakta paling memilukan adalah ketika kondisi ekonomi yang terhimpit memaksa Nuryani dan anak-anaknya hanya bisa mengonsumsi nasi dicampur penyedap rasa demi bertahan hidup.

Bertahan di Tengah Kemiskinan Ekstrem Nuryani, yang belum genap berusia 40 tahun, harus memikul beban sebagai orang tua tunggal bagi sembilan anaknya (delapan tinggal bersamanya di Bandung).

Hubungan yang renggang dengan sang suami membuatnya harus banting tulang sendirian sebagai buruh cuci hingga pengumpul rongsokan.

“Anak paling besar di Tasikmalaya, usianya 19 tahun. Di sini bersama saya ada delapan anak,” ujar Nuryani dengan suara bergetar kepada awak media, Kamis (19/3/2026).

Pemandangan di kontrakannya pun menggambarkan getirnya hidup. Dinding penuh coretan menjadi saksi bisu tumbuh kembang anak-anaknya yang serba kekurangan.

Nuryani menceritakan perjuangannya menghidupi delapan anak dengan mengandalkan nasi dicampurkan penyedap rasa demi bertahan hidup. Di kontrakannya di kawasan Ujungberung, Kota Bandung. Ibu asal Tasikmalaya ini merawat delapan sang buah hati seorang diri.

Nuryani menceritakan perjuangannya menghidupi delapan anak dengan mengandalkan nasi dicampurkan penyedap rasa demi bertahan hidup. Di kontrakannya di kawasan Ujungberung, Kota Bandung. Ibu asal Tasikmalaya ini merawat delapan sang buah hati seorang diri.

Jika ia berhenti bekerja untuk merawat mereka, maka tidak ada uang untuk makan hari itu. Fakta menyedihkan lainnya muncul dari keinginan anak-anak Nuryani, seperti Intan dan Jabar, yang sangat ingin bersekolah.

Bagi mereka, memakai seragam sekolah adalah kemewahan yang sulit digapai. ” Anak-anak pengin sekolah, pakai seragam,” tutur Nuryani sambil menyeka air mata dengan kerudungnya.

Beruntung, secercah harapan muncul melalui bantuan lembaga seperti Masjid Makan-Makan yang membantu penebusan ijazah dan fasilitas sekolah paket.

Meski bantuan mulai datang, Nuryani tak menampik bahwa dirinya sempat ingin pulang ke kampung halaman, namun urung karena takut menjadi beban bagi keluarga di sana. (Igon)

Editor : Adr