Thursday, September 10, 2026
spot_img
Home Headline PKSS Tangsel Apresiasi PTM Kembali Digelar Usai PJJ Dampak Debu Vulkanik Anak...

PKSS Tangsel Apresiasi PTM Kembali Digelar Usai PJJ Dampak Debu Vulkanik Anak Krakatau

Lenteraindonesia.net | TANGERANG SELATAN — Perkumpulan Kepala Sekolah Swasta (PKSS) Kota Tangerang Selatan mengapresiasi keputusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangerang Selatan yang kembali memperbolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Kamis.

Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya sekolah-sekolah di wilayah Tangerang Selatan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua hari sebagai langkah antisipasi menyusul paparan debu vulkanik akibat aktivitas erupsi Anak Krakatau.

Ketua PKSS Tangerang Selatan, Eko Pranoto, menilai keputusan kembali menggelar PTM merupakan langkah tepat. Namun, ia mengingatkan agar seluruh sekolah tetap mengutamakan keamanan dan kesehatan peserta didik maupun tenaga pendidik.

“Kami sangat mengapresiasi keputusan Dindikbud Tangerang Selatan. Setelah dua hari menerapkan PJJ sebagai langkah antisipasi, mulai Kamis sekolah diberikan kesempatan kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan tetap memperhatikan prosedur keamanan dan kesehatan,” ujar Eko.

Menurut Eko, kondisi di Tangerang Selatan relatif cukup aman sehingga kegiatan belajar mengajar secara langsung dinilai sudah memungkinkan untuk kembali dilaksanakan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kembalinya PTM bukan berarti sekolah boleh mengurangi kewaspadaan. Prosedur kesehatan dan kesiapsiagaan tetap harus menjadi perhatian.

“Kalau melihat kondisi di Tangerang Selatan, relatif cukup aman untuk pembelajaran tatap muka. Tentunya bukan berarti kita mengabaikan kewaspadaan. Prosedur kesehatan tetap harus dijalankan dan sekolah harus siap melakukan penyesuaian jika kondisi kembali berubah,” katanya.

Eko menilai sekolah memiliki peran penting dalam memastikan proses pendidikan tetap berjalan sekaligus memberikan pengawasan terhadap kondisi peserta didik.

Menurutnya, PTM masih menjadi salah satu metode pembelajaran yang efektif karena memungkinkan guru berinteraksi langsung dengan siswa dan mengetahui perkembangan mereka secara lebih cepat.

Eko menjelaskan, interaksi langsung antara guru dan peserta didik membuat proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal. Guru juga dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi sekaligus mendeteksi berbagai kendala yang dihadapi.

“Pembelajaran tatap muka lebih efektif karena guru bisa berinteraksi langsung dengan siswa. Pengawasan juga lebih maksimal. Guru bisa melihat apakah siswa memahami materi, apakah ada kendala, termasuk kondisi mereka selama berada di sekolah,” jelasnya.

Ia menambahkan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat peserta didik menerima materi pelajaran. Lingkungan sekolah juga menjadi ruang untuk membangun interaksi sosial, kedisiplinan, karakter, serta keterampilan komunikasi.

Karena itu, menurut Eko, PTM tetap dibutuhkan ketika kondisi lingkungan sudah memungkinkan dan memenuhi aspek keamanan bagi warga sekolah.

Meski PTM kembali diberlakukan, Eko mengingatkan sekolah agar tidak menganggap kebijakan tersebut sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan.

Sekolah, kata dia, perlu memastikan kebersihan lingkungan, memperhatikan kondisi udara, serta mengingatkan peserta didik untuk menjaga kesehatan.

Koordinasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah juga dinilai penting untuk mengantisipasi apabila terjadi perubahan kondisi.

“Kita tentu ingin kegiatan belajar kembali normal, tetapi keselamatan dan kesehatan warga sekolah tetap nomor satu. Jadi PTM berjalan, tetapi kewaspadaan juga harus berjalan,” tegasnya.

Eko juga mengapresiasi langkah Dindikbud Tangsel yang sebelumnya mengambil kebijakan PJJ selama dua hari. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah daerah dalam merespons kondisi lingkungan yang berpotensi memengaruhi aktivitas pendidikan.

“Jadi tidak ada istilah sekolah mengabaikan kondisi. Dua hari PJJ sudah menjadi bagian dari langkah antisipasi. Ketika kondisi dinilai memungkinkan untuk kembali PTM, kita jalankan dengan tetap mengikuti arahan dan prosedur yang ada,” ujarnya.

PKSS, lanjut Eko, mendorong seluruh sekolah swasta di Tangerang Selatan untuk mengikuti ketentuan Dindikbud serta terus berkoordinasi dengan orang tua peserta didik.

Ia berharap kondisi lingkungan segera kembali normal sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal dengan tetap mengutamakan keselamatan.

“Harapan kami tentu semuanya kembali normal. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman, guru bisa mengajar dengan maksimal, dan orang tua juga merasa tenang. Prinsipnya, pendidikan harus tetap berjalan, tetapi kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas,” pungkas Eko.(***)

 

 

Penulis: Redaksi

Editor: Adr