ISNU dan STISNU Gagas Perda Pemberdayaan Pesantren Kota Tangerang di FGD Bogor

Lenteraindonesia.net | Bogor – Dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaboratif, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tangerang bersama civitas akademika STISNU Nusantara Tangerang menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada 1–2 Agustus 2025 di Villa Gardenia, Cilember, Puncak Bogor.

FGD ini menjadi forum strategis untuk menggagas lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Kota Tangerang tentang pemberdayaan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan. Inisiatif ini dinilai penting dalam mendorong kehadiran negara secara lebih kuat dan terstruktur terhadap pesantren.

Ketua ISNU Kota Tangerang, Asyik, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab keilmuan dan moral para sarjana Nahdlatul Ulama dalam memperkuat eksistensi pesantren, baik secara regulatif maupun struktural.

Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tangerang, (Doc.Foto: Adr/red/lenteraindonesia)

“Pesantren selama ini menjadi pilar penting dalam pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter bangsa. Sudah saatnya pemerintah daerah hadir dengan kebijakan yang lebih kuat dan berkelanjutan, bukan sekadar hibah insidental, tetapi penganggaran yang rutin dan wajib sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren,” ujarnya.

Ketua STISNU Nusantara Tangerang, Muhamad Qustulani, yang akrab disapa Gus Fani, turut menyampaikan pandangan kritis terhadap minimnya komitmen anggaran dari pemerintah daerah terhadap pesantren. Menurutnya, keraguan alokasi anggaran rutin masih sering terjadi dengan alasan kewenangan pusat dan kekhawatiran audit.

“Padahal, UU Pesantren justru memberi ruang dan legitimasi hukum bagi pemda untuk hadir total dalam mendukung lembaga pendidikan keagamaan. Ini saatnya Kota Tangerang menjadi pelopor,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, STISNU menyatakan kesiapan penuh untuk terlibat dalam penyusunan naskah akademik sebagai dasar ilmiah usulan Perda.

“Ini gagasan besar dan mulia. Kami siap berkolaborasi secara akademis, karena pesantren adalah jantung pendidikan Islam dan benteng moral bangsa,” tambah Gus Fani.

FGD ini ditutup dengan penegasan kembali oleh Ketua ISNU, bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang ISNU dalam memperkuat posisi strategis pesantren di tengah dinamika zaman.

“Sebagai sarjana Nahdlatul Ulama, kami merasa terpanggil untuk menjaga, menguatkan, dan mengembangkan pesantren melalui jalan keilmuan dan kebijakan. Semoga ikhtiar ini menjadi ladang maslahat bersama,” tutupnya.(Redaksi)

Editor: Adr